Minggu, 20 September 2015

Manfaatkan Lima Perkara Sebelum Menyesal



Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara. Jika di masa muda, sehat, kaya, waktu senggang sulit untuk beramal, maka jangan harap selain waktu tersebut bisa semangat. Ditambah lagi jika benar-benar telah datang kematian, bisa jadi yang ada hanyalah penyesalan dan tangisan.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara
(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ghonim bin Qois berkata,

كنا نتواعظُ في أوَّل الإسلام : ابنَ آدم ، اعمل في فراغك قبل شُغلك ، وفي شبابك لكبرك ، وفي صحتك لمرضك ، وفي دنياك لآخرتك . وفي حياتك لموتك

“Di awal-awal Islam, kami juga saling menasehati: wahai manusia, beramallah di waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, beramallah di waktu mudamu untuk masa tuamu, beramallah di kala sehatmu sebelum datang sakitmu, beramallah di dunia untuk akhiratmu, dan beramallah ketika hidup sebelum datang matimu.” (Disebutkan dalam Hilyatul Auliya’. Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 387-388).
Semua itu kata Ibnu Rajab Al Hambali merintangi kita dalam beramal dan sebagiannya melalaikan kita seperti pada sebagian orang. Lihat saja ketika seseorang fakir dibanding ketika ia kaya, lihat pula ketika ia sakit, sudah menginjak masa tua atau bahkan mati yang tidak mungkin lagi beramal. (Lihat Idem, 2: 388).

Jika waktu muda sudah malas ibadah, jangan harap waktu tua bisa giat.
Jika waktu sehat saja sudah malas shalat, jangan harap ketika susah saat sakit bisa semangat.
Jika saat kaya sudah malas sedekah, jangan harap ketika miskin bisa keluarkan harta untuk jalan kebaikan.
Jika ada waktu luang enggan mempelajari ilmu agama, jangan harap saat sibuk bisa duduk atau menyempatkan diri untuk meraih ilmu.
Jika hidup sudah enggan bertakwa dan mengenakan jilbab, apa sekarang mau tunggu mati?

Lihatlah mereka yang menyesal,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11)

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun: 10-11).
Hanya Allah yang memberi taufik untuk memanfaatkan lima perkara sebelum lima perkara.

Bersegeralah Beramal Sholeh Sebelum Datang Musibah



“Bersegeralah melakukan kebaikan sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia,”  demikian salah satu sabda Rosulullah SAW.
Bencana datang sewaktu waktu , bersegeralah ibadah dan amal sholih...
Berlomba-lombalah dalam Kebaikan
Allah SWT berfirman :
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148). Maksud ayat ini kata Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin adalah jadilah yang nomor satu dalam melakukan kebaikan. (Syarh Riyadhus Sholihin, 2: 6).
Begitu juga Allah SWT  berfirman :
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).
Di antara perintah untuk bersegera dalam kebaikan yaitu perintah untuk menduduki shaf pertama. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :,
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
Sebaik-baik shaf laki-laki adalah shaf pertama dan yang jelek adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang terakhir dan yang jelek adalah yang awal.” (HR. Muslim no. 440). 

Lihatlah di sini, ini adalah perintah yang menandakan untuk segera melakukan kebaikan.

Bersegeralah Melakukan Kebaikan Sebelum Datang Musibah

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).
Hadits ini berisi perintah untuk bersegera melakukan amalan sholih. Yang disebut amalan sholih adalah jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas pada Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Jika tidak memenuhi syarat ini, suatu amalan tidaklah diterima di sisi Allah.
Dalam hadits ini dikabarkan bahwa akan datang fitnah seperti potongan malam. Artinya fitnah tersebut tidak terlihat. Ketika itu manusia tidak tahu ke manakah mesti berjalan. Ia tidak tahu di manakah tempat keluar.
Fitnah boleh jadi karena syubuhaat (racun pemikiran), boleh jadi timbul dari syahwat (dorongan hawa nafsu untuk bermaksiat).
Fitnah di atas itu diibaratkan dengan potongan malam yang sekali lagi tidak diketahui. Sehingga seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Dalam satu hari, bayangkanlah ada yang bisa demikian. Atau ia di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi harinya kafir. Mereka bisa menjadi kafir karena menjual agamanya.
Bagaimanakah bisa menjual agama?  Menjual agama yang dimaksud di sini adalah menukar agama dengan harta, kekuasaan, kedudukan atau bahkan dengen perempuan.
Pelajaran lainnya dari hadits ini:

  1. Wajibnya berpegang teguh dengan agama.
  2.  Bersegera dalam amalan sholih sebelum datang cobaan yang merubah keadaan.
  3. Fitnah akhir zaman begitu menyesatkan. Satu fitnah datang dan akan berlanjut pada fitnah berikutnya.
  4. Jika seseorang punya kesempatan untuk melakukan satu kebaikan, maka segeralah melakukannya, jangan menunda-nunda.
  5. Jangan menukar agama dengan dunia yang murah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk bersegera dalam kebaikan dan terus menjaga agama kita.(*)

Rabu, 16 September 2015

Kerudung: Antara Kewajiban dan Sekedar Aksesoris



Kerudung, hijab atau jilbab ...bukan makhluk atau benda asing bagi para muslimah di dunia ini. Semua muslimah di belahan dunia manapun pasti mengenal kerudung, yang di Indonesia kita ini disebut jilbab.
Kerudung ini adalah salah satu pakaian wajib Muslimah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 31:
 “Hendaklah mereka (muslimah) mengulurkan kerudungnya ke dada mereka”.
Alhamdulillah, saat ini kesadaran muslimah mengenakan kerudung sangat bagus. Dulu, saat saya kecil, ketika saya pergi ke mall, jarang saya lihat wanita berjilbab. Sekarang, di sekolah pun guru-guru, pelajar-pelajar wanita, hingga staf TU rame-rame mengenakan jilbab.
Sayangnya, kerudung di era modern ini hanya dianggap sebagai aksesoris, bukan untuk memenuhi kewajiban sebagai muslimah. Banyak sekali bukti-bukti yang menunjukkannya.
Contohnya, kita lihat wanita berjilbab yang merokok, dugem, berdua dengan lelaki yang bukan mahram, berbicara kasar, meninggalkan shalat tanpa halangan syar’i, dsb. Seolah-olah kerudung di kepalanya itu seperti topi saja, yaitu aksesoris. Mereka menunjukkan kelakuan yang berbeda dengan penampilan.
Lalu, jilbab sekarang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga lebih mirip bawa-bawa punuk unta atau sarang tawon. Jilbab dibuat mencekik leher. Dipadukan dengan kaos panjang ketat dan celana panjang ketat. Padahal, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah bersabda:
Dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu: “suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggaklenggok (jalannya), mengajarkan wanita berlenggaklenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wanginya, walaupun wanginya tercium selama perjalanan ini dan ini (jauhnya)” (HR. Muslim).
Hadits diatas menerangkan dengan jelas larangan untuk berjilbab dengan ‘membawa punuk unta’ atau memadukan jilbab dengan pakaian ketat. Pada dasarnya semua itu sama saja pakai baju tapi telanjang, alias seperti orang telanjang ditutupi sedikit kain.
Bukti lainnya, yaitu, banyak wanita ketika di tempat resmi, seperti kantor dan sekolah, mengenakan jilbab, tapi ketika pergi ke mall jilbabnya dicopot. Jilbab dianggap pelengkap pakaian yang hanya dipakai di saat tertentu dan bisa dilepas sewaktu-waktu.
Dengan bukti-bukti diatas, kita bisa menyimpulkan, banyak muslimah sekarang berjilbab hanya untuk mempercantik penampilan dan bukan untuk memenuhi kewajiban agama Islam yang mulia ini.

Seperti apa berjilbab yang sesuai syariat Islam itu? Mari kita simak gambar berikut ini.

 Berikut ini gambar jilbab yang dilarang oleh syariat Islam.




Dan mirisnya, gambar kedua ini adalah gaya berjilbab yang masih mainstream alias paling sering diikuti oleh para muslimah yang sok kepengen mbois (kepengen tampil gaul).
Secara duniawi pun, berjilbab sesuai syariat itu lebih murah daripada berjilbab gaul. Berikut perbandingannya.


So, mari para muslimah, berjilbablah sesuai syariat Islam. Sudah hemat, Insya Allah juga mendapat pahala dari Allah Swt.
Catatan penting:
1.      Saya menggunakan istilah jilbab untuk kerudung, karena ini yang sering digunakan di Indonesia.
2.      Saya tidak men-judge semua pemakai jilbab di zaman sekarang ini menganggap jilbab sebagai aksesoris saja.
3.      Gambar terakhir tidak bermaksud untuk mempromosikan suatu merek tertentu.
Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan artikel ini